feature

Ketika Amanah Datang dari Udara Sejuk Way Belerang dan Pesan yang Menggantung di Pohon Harapan

Rabu, 15 April 2026 | 13:37 WIB
Prosesi pelantikan pejabat eselon III dan IV dilingkungan Pemkab lampung Selatan yang digelar di Wisata Way Belerang Kalianda. (Foto: Doni Armadi/Tiga Pena Indonesia)

Oleh: DONI ARMADI | KALIANDA

PAGI ITU, udara di kawasan Way Belerang, Kecamatan Kalianda, seperti sedang berbicara pelan. Uap putih naik dari gemercik air panas, membawa aroma belerang yang khas - tajam, namun jujur.

Dibawah rindangnya pohon trembesi yang menyejukkan, nyanyian burung dari area hutan lereng Gunung Rajabasa seolah mengingatkan: hidup selalu bergerak, tak peduli siapa yang datang dan pergi. Di tempat itulah, jauh dari ruang-ruang ber-AC dan podium megah, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan memilih menuliskan cerita penting birokrasinya.

Rabu, 15 April 2026, kawasan yang biasanya dipenuhi tawa wisatawan berubah menjadi panggung sunyi penuh makna. Sebanyak 56 pejabat eselon III dan IV berdiri dalam barisan rapi, melakukan prosesi pelantikan dan pembacaan sumpah jabatan.

Baca Juga: Menhaj Pastikan Kesiapan Fasiltas dan Konsumsi di Arab Saudi

Berhiaskan Tukkus bagi laki-laki dan kain kumbut untuk perempuan, wajah-wajah para pejabat eselon itu seperti memantulkan beragam rasa-haru, bangga, sekaligus beban yang mulai terasa sejak sumpah jabatan terucap.

Tak ada kemegahan. Tak ada sekat. Hanya nuansa alam yang alami dan sejuk, menjadi saksi bahwa hari itu bukan sekadar pelantikan-melainkan peringatan dan pesan untuk kembali membaur dengan alam tempat manusia berasal.

Ditengah suasana yang nyaris hening, Sekretaris Daerah Lampung Selatan, Supriyanto, berdiri tegak dan menegaskan kembali makna dasar dari sebuah jabatan.

Baca Juga: Dari Laut yang Menjebak ke Asa yang Menyala: Saat Bella Jayanti Peluk Korban Calo Kerja Menata Masa Depan

Bahwa kursi yang diduduki bukanlah hadiah. Bukan pula simbol kekuasaan. Melainkan amanah—yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan atasan, tetapi di hadapan masyarakat yang diam-diam menaruh harapan.

“Jabatan itu tanggung jawab besar. Harus dijalankan dengan integritas dan orientasi pelayanan,” ucapnya, pelan namun tegas.

Pemilihan Way Belerang bukan kebetulan. Alam yang bekerja tanpa pamrih dijadikan cermin. Bahwa pelayanan publik pun seharusnya demikian. Mengalir, tulus, dan tak menunggu tepuk tangan.

Namun pagi itu, alam tidak hanya menjadi latar, melainkan juga menjadi jembatan suara. Di sudut-sudut kawasan, secarik kertas bergelantungan di sebuah “pohon aspirasi”. Kertas-kertas itu sederhana, tetapi isinya jauh dari remeh.

Ditulis tangan oleh warga sekitar, mereka menitipkan harapan yang selama ini mungkin tak terdengar di ruang-ruang rapat para birokrat.

Halaman:

Terkini