“Ini kewajiban,” katanya singkat kepada Tiga Pena Indonesia, suatu pagi
“Kalau bukan kita, siapa lagi?” lanjutnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di lapangan, maknanya jauh lebih dalam. Bagi sebagian orang, Sabtu dan Minggu adalah waktu istirahat. Tapi tidak bagi Muherwan.
Ketika kantor-kantor lengang dan aktivitas melambat, ia justru mempercepat langkah. Ia tahu, sampah tidak mengenal hari libur.
Di jalan protokol Kalianda, di sudut pasar, hingga kawasan perkantoran pemerintah, ia bersama tim menyisir titik-titik yang rawan menumpuk sampah.
Tak jarang, ia sendiri yang memegang kemudi dump truck, memastikan pengangkutan berjalan tanpa hambatan.
Rutinitas itu berulang, tanpa banyak sorotan. Dan justru di situlah letak ketulusannya—bekerja tanpa menunggu dilihat.
Baca Juga: Mensos Pebaruai DTSEN, 11 Ribu KPM Bansos Dicabut
Malam itu, gema takbir menggema di berbagai penjuru. Lampu-lampu rumah menyala, keluarga berkumpul, makanan tersaji. Sebuah suasana yang hangat dan penuh perayaan.
Namun di jalan protokol Kalianda, cerita berbeda sedang berlangsung. Muherwan dan puluhan petugas kebersihan masih bekerja.
Jam terus bergerak, melewati tengah malam. Sampah dari aktivitas masyarakat meningkat tajam. Kantong-kantong plastik berserakan, sisa-sisa perayaan menumpuk di berbagai titik.
Baca Juga: Puisi di Balik Kekuasaan: Cara Wabup M. Syaiful Anwar Merayakan Cinta untuk Isterinya
Tidak ada pilihan selain membereskannya. “Waktu itu sampai jam tiga pagi,” kenangnya.
Tidak ada keluhan dalam suaranya. Hanya fakta yang disampaikan apa adanya.