Bagi mereka, itu bukan pengorbanan. Itu bagian dari pekerjaan.
Di tengah kerja yang nyaris tanpa jeda, kritik justru datang. Ia disebut tidak becus. Diragukan. Disorot.
Dalam dunia birokrasi, tudingan seperti itu bisa menjadi beban besar. Bisa mematahkan semangat, atau setidaknya membuat seseorang memilih aman—bekerja sekadarnya, cukup terlihat tanpa benar-benar turun.
Tapi Muherwan memilih jalur sebaliknya. Ia tetap turun ke lapangan. Ia tetap bekerja. Ia tetap diam.
“Biarkan saja. Nanti juga terlihat.” ucapnya.
Tidak ada nada marah. Tidak ada pembelaan panjang. Hanya keyakinan bahwa waktu akan menjawab.
Baca Juga: Ratusan Tambang Belum Punya IUP, Prabowo Perintah Bahlil Melakukan Evaluasi
Persoalan sampah sering kali hanya terlihat dari hasil akhir. Bersih atau kotor. Jarang ada yang benar-benar melihat proses di baliknya—keringat, bau, waktu yang terpotong, bahkan risiko kesehatan.
Padahal di balik kota yang bersih, ada orang-orang yang setiap hari bergelut dengan hal-hal yang dihindari banyak orang. Muherwan adalah salah satunya.
Ia dan timnya bekerja dalam sunyi. Tanpa tepuk tangan. Tanpa sorotan berlebih. Namun justru dari kerja-kerja seperti itulah, wajah kota ditentukan.
Baca Juga: Remaja di Kepulauan Riau Disetubuhi Ayah Kandung, Polisi Cepat Amankan Pelaku
Bagi Muherwan, sampah bukan hanya soal kebersihan. Ini tentang kesehatan, tentang kenyamanan, tentang martabat sebuah kota.
Tumpukan sampah yang dibiarkan bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga menyimpan ancaman penyakit. Ia memahami itu, dan itulah yang membuatnya terus bergerak.
Di tengah stigma terhadap pekerjaan “kotor”, ia justru menemukan makna pengabdian.