Ada yang meminta perbaikan fasilitas di Wisata Way Belerang. Ada yang berharap kawasan pemandian air panas kembali hidup. Ada pula yang menaruh harap sederhana: agar roda ekonomi berputar lagi, agar para pedagang kecil bisa kembali tersenyum.
Kertas-kertas itu tidak berisik. Namun di situlah suaranya terasa paling lantang.
Para pejabat yang baru dilantik dipaksa membaca satu per satu pesan itu. Tanpa protokol. Tanpa jarak.
Seolah hari itu, jabatan langsung dipertemukan dengan kenyataan. Supriyanto menegaskan, apa yang tergantung di pohon itu bukan sekadar hiasan seremonial. Itu adalah pekerjaan rumah-yang tak bisa ditunda, apalagi diabaikan.
Baca Juga: Puisi di Balik Kekuasaan: Cara Wabup M. Syaiful Anwar Merayakan Cinta untuk Isterinya
“Aspirasi ini harus menjadi pemicu semangat. Ini suara murni masyarakat, dan harus kita jawab dengan kerja nyata,” tegasnya.
Di balik itu semua, roda organisasi tetap bergerak. Nama-nama bergeser, peran bertukar. Rotasi ini bukan sekadar perpindahan kursi. Ia adalah ujian: siapa yang benar-benar siap bekerja, dan siapa yang hanya sekadar menempati.
Ketika prosesi usai, tak ada tepuk tangan panjang. Para pejabat berjalan pelan meninggalkan lokasi, menyusuri jalan setapak yang diselimuti lumut hijau dan udara yang beraroma belerang. Langkah mereka mungkin terasa lebih berat dari sebelumnya.
Karena hari itu, mereka tidak hanya membawa surat keputusan.
Mereka membawa suara-suara yang menggantung di pohon. Mereka membawa harapan yang tak bisa diabaikan. Satu pesan yang begitu jelas—jabatan bukan tentang di mana dilantik, tetapi tentang bagaimana amanah itu dijalankan. ***