Oleh: DONI ARMADI | KALIANDA
PAGI ITU, udara di kawasan Way Belerang, Kecamatan Kalianda, seperti sedang berbicara pelan. Uap putih naik dari gemercik air panas, membawa aroma belerang yang khas - tajam, namun jujur.
Dibawah rindangnya pohon trembesi yang menyejukkan, nyanyian burung dari area hutan lereng Gunung Rajabasa seolah mengingatkan: hidup selalu bergerak, tak peduli siapa yang datang dan pergi. Di tempat itulah, jauh dari ruang-ruang ber-AC dan podium megah, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan memilih menuliskan cerita penting birokrasinya.
Rabu, 15 April 2026, kawasan yang biasanya dipenuhi tawa wisatawan berubah menjadi panggung sunyi penuh makna. Sebanyak 56 pejabat eselon III dan IV berdiri dalam barisan rapi, melakukan prosesi pelantikan dan pembacaan sumpah jabatan.
Baca Juga: Menhaj Pastikan Kesiapan Fasiltas dan Konsumsi di Arab Saudi
Berhiaskan Tukkus bagi laki-laki dan kain kumbut untuk perempuan, wajah-wajah para pejabat eselon itu seperti memantulkan beragam rasa-haru, bangga, sekaligus beban yang mulai terasa sejak sumpah jabatan terucap.
Tak ada kemegahan. Tak ada sekat. Hanya nuansa alam yang alami dan sejuk, menjadi saksi bahwa hari itu bukan sekadar pelantikan-melainkan peringatan dan pesan untuk kembali membaur dengan alam tempat manusia berasal.
Ditengah suasana yang nyaris hening, Sekretaris Daerah Lampung Selatan, Supriyanto, berdiri tegak dan menegaskan kembali makna dasar dari sebuah jabatan.
Bahwa kursi yang diduduki bukanlah hadiah. Bukan pula simbol kekuasaan. Melainkan amanah—yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan atasan, tetapi di hadapan masyarakat yang diam-diam menaruh harapan.
“Jabatan itu tanggung jawab besar. Harus dijalankan dengan integritas dan orientasi pelayanan,” ucapnya, pelan namun tegas.
Pemilihan Way Belerang bukan kebetulan. Alam yang bekerja tanpa pamrih dijadikan cermin. Bahwa pelayanan publik pun seharusnya demikian. Mengalir, tulus, dan tak menunggu tepuk tangan.
Namun pagi itu, alam tidak hanya menjadi latar, melainkan juga menjadi jembatan suara. Di sudut-sudut kawasan, secarik kertas bergelantungan di sebuah “pohon aspirasi”. Kertas-kertas itu sederhana, tetapi isinya jauh dari remeh.
Ditulis tangan oleh warga sekitar, mereka menitipkan harapan yang selama ini mungkin tak terdengar di ruang-ruang rapat para birokrat.
Artikel Terkait
Polri Pastikan Rekrutmen Akpol Berjalan Transparan dan Tak Ada Jalur Khusus
Viral! Dua Pria Duel Sajam di Depan RSUD Bung Karno Solo: Lansia Terduduk Lemas
Remaja di Kepulauan Riau Disetubuhi Ayah Kandung, Polisi Cepat Amankan Pelaku
Ratusan Tambang Belum Punya IUP, Prabowo Perintah Bahlil Melakukan Evaluasi
Indonesia Resmikan Pabrik Kendaraan Berbasis Listrik di Tengah Krisis BBM, Presiden; Pucuk Dicinta Ulam Pun Tiba
Puisi di Balik Kekuasaan: Cara Wabup M. Syaiful Anwar Merayakan Cinta untuk Isterinya
Mensos Pebaruai DTSEN, 11 Ribu KPM Bansos Dicabut
Dari Laut yang Menjebak ke Asa yang Menyala: Saat Bella Jayanti Peluk Korban Calo Kerja Menata Masa Depan
Menhaj Pastikan Kesiapan Fasiltas dan Konsumsi di Arab Saudi
346 WNA Dimankan Dalam Operasi Wirawaspada Keimigrasian RI